Musculoskeletal Disorders tipus.docx

8 pages
11 views

Please download to get full document.

View again

of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Musculoskeletal Disorders (MSDs) 2.3.1 Definisi Musculoskeletal Disorders (MSDs) Definii musculoskeletal disorders (MSDs) adalah kelainan yang disebabkan penumpukan cidera atau kerusakan kecil-kecil pada sistem muskuloskeletal akibat trauma berulang yang setiap kalinya tidak sempat sembuh secara sempurna, sehingga membentuk kerusakan cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit (Humantech, 1995). Menurut Nasional Safety Council (2002) MSDs juga bisa diartikan sebagai gangguan fungsi norm
Transcript
   Musculoskeletal Disorders (MSDs) 2.3.1 Definisi  Musculoskeletal Disorders (MSDs) Definii musculoskeletal disorders (MSDs) adalah kelainan yang disebabkan penumpukan cidera atau kerusakan kecil-kecil pada sistem muskuloskeletal akibat trauma berulang yang setiap kalinya tidak sempat sembuh secara sempurna, sehingga membentuk kerusakan cukup besar untuk menimbulkan rasa sakit (Humantech, 1995). Menurut Nasional Safety Council (2002) MSDs juga bisa diartikan sebagai gangguan fungsi normal dari otot, tendon, saraf, pembuluh darah, tulang dan ligament akibat berubahnya struktur atau berubahnya sistem musculoskeletal. Gangguan MSDs biasanya merupakan suatu akumulasi dari benturan-benturan kecil atau besar yang terjadi dalam waktu pendek ataupun lama, dalam hitungan beberapa hari, bulan atau tahun tergantung dari berat atau ringannya trauma setiap kali dan setiap hari, akan terbentuk cidera cukup besar yang diekspresikan sebagai rasa sakit atau kesemutan, nyeri tekan, pembengkakan dan gerakan yang terhambat atau gerakan minim atau kelemahan pada jaringan anggota tubuh yang terkena trauma (Humantech, 1995). Gejala MSDs biasanya sering disertai dengan keluhan yang sifatnya subjektif, sehingga sulit untuk menentukan derajat keparan penyakit tersebut. Keluhan musculoskeletal adalah keluhan  pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament dan tendon. Keluhan hingga kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) atau cedera pada sistem musculoskeletal (Grandjean, 1993; Lemasters, 1996). Secara garis besar keluhan otot dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1. Keluhan sementara ( reversible ), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat otot menerima beban statis, namun demikian keluhan tersebut akan segera hilang apabila pembebanan dihentikan. 2. Keluhan menetap (  persistent  ), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap. Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot masih terus berlanjut. 2.3.2 Jenis-jenis  Musculoskeletal Disorder (MSDs) Menurut American Dental Association, 2004 dalam  An Introduction to  Ergonomics: Risk Factors , MSDs,  Approaches and Interventions , jenis-jenis MSDs antara lain: 1. Nyeri Punggung Bagian Bawah (  Lower Back Pain )  Low back pain (LBP) atau nyeri punggung bawah termasuk salah satu dari gangguan muskuloskeletal, gangguan psikologis dan akibat dari mobilisasi yang salah. LBP menyebabkan timbulnya rasa pegal, linu, ngilu, atau tidak enak pada daerah lumbal berikut sakrum. LBP diklasifikasikan kedalam 2 kelompok, yaitu kronik dan akut. LBP akut akan terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu. Sedangkan LBP kronik terjadi dalam waktu 3 bulan. Yang termasuk dalam faktor resiko LBP adalah umur, jenis kelamin, faktor indeks massa tubuh yang meliputi  berat badan, tinggi badan, pekerjaan, dan aktivitas/olahraga (Idyan, Zamna, 2007). 2. Nyeri Punggung Bagian Atas ( Upper Back Pain ) Terdapat beberapa laporan mengenai nyeri yang ekstensif terjadi pada  punggung bagian tengah dan atas ( thoracic area ). Tulang belakang bagian dada sangat kuat dan dirancang untuk menompang posisi berdiri dan melindungi organ vital. Gejala degenerasi sangat jarang terjadi, karena adanya sedikit gerakan dan stabilitas yang kokoh. Walaupun struktur tulang belakang ( bones, discs, nerves ) jarang terjadi cidera, kondisi osteoporosis dapat menjadi penyebab kondisi khusus seperti keretakan kompresi ( compression fractures ). Demikian juga, tulang torak sering terkait dalam idiopathic scoliosis (  side to side curve ) atau kyphosis ( excessive forward curve ). Hal  tersebut dapat menimbulkan kondisi nyeri, walaupun sumber dan penyebab pastinya sering tidak jelas. Kemungkinan banyak penyebab nyeri punggung bagian tengah, tetapi sulit untuk didiagnosis secara tepat apakah nyeri otot dari otot  postural dan  scapular. Kontribusi postur janggal, statis, kekuatan dan daya tahan yang lemah, dan kondisi individu secara keseluruhan perlu menjadi pertimbangan. 3.  Hand and Wrist Problems MSDs pada tangan dan pergelangan tangan dapat terjadi dalam berbagai  bentuk, seperti cumulative trauma disorder (CTD), repetitive strain injury (RSI), occupational repetitive micro-trauma , repetitive motion injury (RMI), overuse  syndrome , carpal tunnel syndrome (CTS) and repetitive stress disorder (RSD). Penyebab utama repetitive motion hand disorders adalah gerakan fleksi dan ekstensi yang konstan dari pergelangan tangan dan jari-jari. Faktor lain yang berkontribusi  pada cidera tangan dan jari-jari tangan adalah gerakan pergelangan dan jari-jari tangan yang tidak normal atau posisi melintir, bekerja terlalu lama tanpa ada istirahat atau relaksasi dari otot tangan dan lengan atas. 4. Tendinitis/Tenosynovitis Tendinitis dapat terjadi jika semua beban dari otot harus dialirkan melalui tendon cables . Jika tekanan terus berlangsung pada cables , maka akan terjadi iritasi dan sakit yang akhirnya menghasilkan tendinitis. Tendinitis umumnya terjadi pada  pergelangan tangan, siku dan bahu. Gejala tendonitis umumnya terjadi titik lembut/empuk dan bengkak (Humantech, 1995,  Applied Ergonomics Training  Manual  ). American Dental Association, 2004, dalam  An Introduction to Ergonomics:  Risk Factors, MSDs, Approaches and Interventions menjelaskan bahwa Tenosynovitis adalah inflamtasi pada tendon dan tendon shesth , dimana keduanya terkait dengan kejadian nyeri selama pergerakan fisik dimana tendon dalam keadaan tegang. Inflamtasi dapat terjadi pada tendon otot yang mengontrol pergerakan jari-jari,  pergelangan tangan dan lengan atas. Tipe-tipe Tenosynovitis secara umum pada tangan dan pergelangan tangan meliputi otot ibu jari (jempol) dan jari telunjuk. Gejala terjadinya Tenosynovitis adalah bengkak dan nyeri (Humantech, 1995,  Applied  Ergonomics Training Manual  ). 5.  DeQuervain’s Disease   Penyakit  DeQuervain’s adalah suatu inflamtasi dari tendon sheath atas dua otot terhadap ibu jari ( abductor pollicis longus dan extensor pollicis brevis ). Keluhan tersebut diberi nama setelah seseorang dokter Perancis pertama kali menggambarkannya. Aktifitas yang memudahkan terjadinya penyakit tersebut antara lain postur yang memelihara ibu jari dalam tarik dan kendur, mencengkram kuat, dan tarikan ibu jari berpadu dengan penyimpangan wrist ulnar (American Dental Association, 2004, dalam  An Introduction to Ergonomics: Risk Factors, MSDs,  Approaches and Interventions ). Gejala yang ditimbulkan adalah nyeri yang tajam dan  bengkak pada seputar pergelangan tangan. Nyeri juga dapat terjadi pada seputar lengan atas sampai ibu jari yang pada akhirnya otot melemah dan kemampuan untuk mencengkram dengan ibu jari menurun 6. Trigger Finger Trigger finger merupakan suatu keadaan dimana jari tangan terkunci dalam  posisi tertekuk. Trigger finger yaitu saat kita dapat menekuk jari tetapi tidak dapat meluruskannya kembali. Hal ini terjadi akibat adanya pengapuran pada tendon otot  jari tangan yang menghambat pergerakan tangan pada saat diluruskan. Pada saat jari tangan tidak dapat diluruskan setelah menggenggam akan terasa nyeri pada pangkal  jari (Kale, 2006). Keadaan ini sering dialami oleh orang yang aktifitasnya banyak merefleksikan tangan, seperti mengepal dan menggenggam dengan kuat. Gerakan tangan menggenggam berulang-ulang menimbulkan gerakan pada otot-otot tangan ( tendon   flextor  jari) dengan  first annular pulley (sendi antara jari dan telapak tangan). Gesekan ini bisa mengakibatkan peradangan dan menimbulkan bengkak pada tendontendon  jari tangan. Kondisi ini biasanya terjadi pada jari tengah, jari manis, dan kelingking 7. Carpal Tunnel Syndrome CTS adalah sebuah penyakit yang disebabkan karena terganggunya saraf tengah karena tekanan yang terjadi pada bagian pergelangan tangan. Hal ini menimbulkan rasa sakit, nyeri dan melemahnya otot-otot pada bagian pergelangan tangan (Sorensen, 2002). CTS merupakan kelainan berupa adanya penekanan atau penjepitan nerve medianus yang melewati terowongan carpal  . Terjadi karena peradangan yang diakibatkan oleh penyakit persendian, trauma, cidera yang berulang-ulang atau selama masa menopause 8. Guyon’s Syndrome   Guyon’s syndrome atau ulnar neuropathy umumnya terjadi karena tekanan atau cidera pada sikut sebagai ulnar nerve passes through the cubital tunnel  . Tekanan  pada sikut bagian ulnar nerve dapat juga tertekan pada base of the palm yang dikenal sebagai Guyon’s Canal. Isi dari Guyon’s Canal adalah ulnar nervedan artery dan jaringan  fatty . Kompresi pada ulnar nerve dapat terjadi hanya beberapa jarak dari Guyon’s Canal  . Gejala nuropati ulnar umumnya terdiri dari nyeri (  pain ), mati rasa ( numbness ) dan/atau terasa perih ( tingling  ) dalam distribusi syaraf ulnar dalam lingkaran jari dan jari kecil serta terasa seperti kesetrum listrik pada lengan. Gejala motorik tidak begitu umum, tetapi dapat kehilangan kendali pada jari kecil, lemah dan kaku pada tangan. Diagnosis terhadap Guyon’s syndrome dilakukan dengan clinical symptoms ,  physical examination dan electro-diagnostic studies . 2.3.3 Faktor Risiko  Muculoskeletal Disorders (MSDs) Faktor-faktor risiko yang terdapat pada aktifitas terkait MSDs dapat diklasifikasikan menjadi: faktor risiko yang terkait dengan karakteristik pekerjaan ( task characteristic ), karakteristik objek ( material/object characteristic ), lingkungan kerja ( workplace characteristic ), dan  faktor individu . a. Karakteristik Pekerjaan Karakteristik pekerjaan yang menjadi faktor risiko  Musculoskeletal Disorders (MSDs) antara lain: 1) Postur kerja Postur kerja adalah posisi tubuh pekerja pada saat melakukan aktivitas kerja yang biasanya terkait dengan disain area kerja dan task requirements (Pulat, 1992 : 163). Salah satu penyebab utama gangguan otot rangka adalah  postur janggal ( awkward posture ). Postur janggal adalah posisi tubuh yang menyimpang secara signifikan terhadap posisi normal saat melakukan  pekerjaan. Bekerja dengan posisi janggal meningkatkan jumlah energi yang dibutuhkan untuk bekerja. Posisi janggal menyebabkan kondisi dimana  perpindahan tenaga dari otot ke jaringan rangka tidak efisien sehingga mudah menimbulkan lelah. Termasuk ke dalam postur janggal adalah pengulangan atau waktu lama dalam posisi menggapai, berputar ( twisting  ), memiringkan  badan, berlutut, jongkok, memegang dalam kondisi statis, dan menjepit dengan tangan. Postur ini melibatkan beberapa area tubuh seperti bahu punggung dan lutut, karena bagian inilah yang paling sering mengalami cidera (Straker, 2000). Postur punggung yang merupakan faktor risiko adalah membungkukkan badan sehingga membentuk sudut 20 o terhadap vertical, dan  berputar dengan be  ban objek ≥ 9 kg, durasi ≥ 10 detik, dan frekuensi ≥ 2  kali/menit atau total lebih dari 4 jam/hari. Memiringkan badan ( bending  ) dapat didefinisikan sebagai refleksi dari tulang punggung, biasanya ke arah  depan atau ke samping. Berputar ( twisting  ) adalah adanya rotasi atau torsi  pada punggung (Hermans et al, 2000) Postur bahu yang merupakan faktor risiko adalah melakukan pekerjaan dengan tangan di atas kepala atau siku di atas bahu lebih dari 4 jam/hari atau lengan atas membentuk sudut 45 o ke arah samping atau ke arah depan terhadap badan selama lebih dari 10 detik dengan frekuensi ≥ 2 kali/menit dan    beban ≥ 4.5 kg (Humantech, 1995)  Postur leher yang merupakan faktor risiko adalah melakukan pekerjaan dengan posisi menunduk (membengkokkan leher ≥  20 o terhadap vertikal), menekukkan kepala atau menoleh ke samping kiri atau kanan, serta menengadah (Humantech, 1995). 2) Frekuensi Banyaknya frekuensi aktifitas (mengangkat atau memindahkan) dalam satuan waktu (menit) yang dilakukan oleh pekerja dalam satu hari. Frekuensi gerakan postur  janggal ≥ 2 kali/menit merupakan faktor risiko terhadap   pinggang. Pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dapat menyebabkan rasa lelah bahkan nyeri/sakit pada otot, oleh karena adanya akumulasi produk sisa  berupa asam laktat pada jaringan. Akibat lain dari pekerjaan yang dilakukan  berulang-ulang akan menyebabkantekanan pada otot dengan akibat terjadinya edema atau pembentukan jaringan parut. Akibat adanya jaringan parut maka akan terjadi penekanan di otot yang akan mengganggu fungsi syaraf. Terganggunya fungsi syaraf, destruksi serabut saraf atau kerusakan yang menyebabkan berkurangnya respon syaraf dapat menyebabkan kelemahan  pada otot (Humantech,1995). 3) Durasi Durasi adalah jumlah waktu terpajan faktor risiko. Durasi dapat dilihat sebagai menit-menit dari jam kerja/hari pekerja terpajan risiko. Durasi dapat dilihat sebagai pajanan/tahun faktor risiko atau karakteristik pekerjaan  berdasarkan faktor risikonya. Secara umum, semakin besar pajanan durasi  pada faktor risiko, semakin besar pula tingkat risikonya. Durasi dibagi sebagai berikut: ã Durasi singkat: < 1 jam/hari ã Durasi sedang: 1-2 jam/hari ã Durasi laam: > 2 jam Risiko fisiologis utama yang dikaitkan dengan gerakan yang sering dan berulang-ulang adalah keletihan dan kelelahan otot. Sepanjang otot
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x