9341-18067-1-SM

15 pages
17 views

Please download to get full document.

View again

of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
pdf
Transcript
  JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 1 TA’ARUF PHENOMENON THROUGH MARRIAGE IN PEKANBARU  (Study Phenomenology In Kader PKS) By  : Rizqa Hidayati Email : rizqa1607@yahoo.com  Counsellor  : Nova Yohana, S.Sos, M.I.Kom Jurusan Ilmu Komunikasi  –   Konsentrasi Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanabru Kampus Bina Widya Jl. HR. Soebrantas Km. 12.5 Simpang Baru Pekanbaru 28293 Telp/Fax. 0761-63272 ABSTRACT  Recently, the phenomenon of ta'aruf marriage has become familiar in our society, especially among public figures such as artists already doing ta'aruf marriage. In the city of  Pekanbaru wedding ta'aruf by Moslems also become a phenomenon in which there is an increase in terms of implementation. It can be seen from the cadre of Partai Keadilan Sejaktera (PKS) are about to get married. Ta'aruf wedding process does not occur in the other party cadres. This study aims to determine the motives, meanings and communication experience PKS cadres who were married through ta'aruf process.. This study uses qualitative research with phenomenological approach. Informants in this study were five cadres who were married through ta'aruf process, Using a snowball  sampling technique.. Data was collected techniques is done by participant observation, interview, and documentation. To achieve the validity of the data in this study, researchers used the extension of participation and triangulation.  Results from this study showed that the motives of the PKS cadres. Motifs past (Because motif) form of theological motifs, basis of religion because of the theological motifs that have been ingrained in them, a commitment to build a vision of building a wedding, and believe the mediator Yag get to know potential mates. While the motive of the future (in-order to) is the desire to be happy family, mawaddah and Rohmah, cultivate relationships syar'i, keingianan have children pious and courtship after marriage. Making of PKS cadres do ta'aruf marriage is a doctrine as the implementation of Islamic Shari'a, as a media partner and as an exploration of psychological needs and social control Communication experience  PKS cadres do ta'aruf marriage is a pleasant communication experience includes; the pair know each other from time to time, received the partner's family, and established cooperation with the community, while not pleasant communication experience includes; busyness couples, families and relatives of opposition parties, and the stigma of people who said marriage ta'aruf like buying a cat in a sack. Keyword: phenomenon, marriage ta’aruf  , motive, meaning, communication experience     JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 2 PENDAHULUAN Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan untuk keberlangsungan hidupnya. Sehingga setiap manusia memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain agar terpenuhi kebutuhan fisik maupun  biologisnya. Hubungan yang terjalin dapat  berupa hubungan pertemanan,  persahabatan dan pernikahan. Manusia pun diciptakan untuk hidup berpasang- pasangan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi dengan memiliki pasangan, seperti kebutuhan biologis sebagai fitrah yang tidak lepas dari setiap manusia. Kebutuhan  biologis itu hanya akan terpenuhi melalui  pernikahan. Pernikahan adalah bertemunya sepasang anak manusia yang memiliki kepentingan-kepentingan untuk menjalin hubungan yang lebih intim, menjaga kesucian jiwa dan mengembangkan keturunan  berdasarkan asas pertukaran hak dan saling  bekerjasama yang produktif dalam suasana cinta kasih dan perasaan saling menghormati satu sama lain. Pernikahan menurut Sayyid Qurthb (dalam Salim, 2014:421) adalah: “Ikata n paling dalam, paling kuat, dan paling langgeng, yang memadukan antara dua anak manusia. Ia meliputi interaksi paling luas yang bisa dilakukan dua orang. ia adalah ikatan jiwa, keterpautan ruh, perpaduan akal, dan  penyatuan jasad, Allah menyebutnya sebaga i mitsaaqan ghaliizhaa.”  Suatu pernikahan antara keluarga satu dengan keluarga yang lain memiliki latarbelakang dan proses yang berbeda menuju suatu pernikahan. Perbedaan tersebut bisa disebabkan perbedaan  budaya, agama, letak geografis, dan ilmu  pengetahuan. Perbedaan inilah yang menjadikan setiap pernikahan itu memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri. Keunikan dan karakteristik pernikahan itu dapat dilihat dari pola interaksi dan komunikasi yang merupakan proses  pertukaran pesan dengan cara verbal atau non verbal menuju proses pernikahan dan saat berumahtangga, itulah menjadi identitas suatu pernikahan. Pacaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga, 2002:807) adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan  berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercinta; (atau) berkasih-sayang (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai  pacar. Sementara kencan menurut kamus ini halaman 542 adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. Pacaran marak sekali terjadi di Indonesia oleh pemuda dan pemudi. Hal ini dapat dilihat melalui riset yang dilakukan KPAI di 12 Kota di Indonesia tahun 2010, menunjukan bahwa dari 2.800 responden pelajar, 76% perempuan dan 72% laki-laki pernah mengaku berpacaran (Andri Haryanto, 2010). Riset tersebut menunjukan bahwa pacaran bukan hal yang tabu lagi bagi masyarakat. Walau terkadang orang beranggapan bahwa  pacaran memiliki sisi positif, akan tetapi sisi negatif (mudharat) jauh lebih banyak. Salah satu dampak pacaran dapat berakibat kehamilan tidak dikehendaki (KTD). Citra Puspitasari (2008:1) kasus kehamilan tidak dikehendaki tercatat ada 92 kasus kehamilan pada tahun 2001, 97 kasus pada tahun 2002, 6 kasus pada 2003 dan hingga tahun 2006 total kehamilan tidak diinginkan mencapai 638 kasus yang diadukan ke lembaga konseling PKBI DIY. Akibat dari KTD adalah melakukan aborsi karena adanya perasaan malu sehingga terpikir melakukan aborsi. Data survey yang dilakukan oleh Paulinus Soge  pada tahun 2008 menyebutkan angka kejadian 2 juta kasus aborsi per 1.000 tahun wanita usia 15-19 tahun atau 43 aborsi per 100 kelahiran hidup atau 30% dari kehamilan. Hasil riset tersebut sangat jelas memberikan informasi bahwa pacaran itu  banyak sesi negatifnya, baik pacaran yang  JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 3 diniatkan oleh pelakunya untuk tujuan menikah, untuk bersenang-senang, atau kadang sekedar mengisi kekosongan hati. Ironisnya, di antara mereka ada yang bebas  berganti-ganti pasangan, ada kedekatan yang dianggap sah. Kemesraan yang dipandang halal dan kepedulian yang dirasakan tepat. Kecintaan yang lebih pada seseorang yang tidak dilakukan pada orang lain. Mereka melakukan pacaran dengan alasan untuk mengenal lebih dalam calon  pasangannya agar terciptanya cinta dan kasih sayang, sehingga memiliki kemantapan hati untuk menuju pernikahan dan langgeng. Sebagian masyarakat melegalitaskan pacaran proses menuju  pernikahan yang mereka anggap sebuah  proses yang mesti dilakukan pasangan yang hendak menikah. Orangtua merasa riskan jika anaknya-terutama anak  perempuan- tidak memiliki hubungan khusus dengan seorang laki-laki yang menjadi pacar anaknya. Mereka takut jika anak mereka menjadi perawan tua, sehingga membiarkan anak gadisnya memiliki hubungan khusus dengan seorang laki-laki. Hadirnya proses ta‟aruf menuju  jenjang pernikahan merupakan salah satu wadah untuk mengurangi/menghindari kerusakan moral pemuda bangsa ini. Rusaknya pemuda suatu bangsa itu  pertanda rusaknya suatu negara. Oleh sebab itu para pemuda harus dijaga dari kerusakan moral yang marak terjadi saat ini. Mayoritas orang beranggapan bahwa ta‟aruf selalu berkaitan dengan pernikahan,  padahal ta‟aruf banyak macam -macamnya. Ta‟aruf yang akan dibahas pada penelitian ini yakni proses ta‟aruf menjelang  pernikahan; salah satu proses perkenalan yang menjembatani pernikahan. Ta‟aruf menuju pernikahan berbeda tujuan dan cara dengan ta‟aruf teman, saudara atau ta‟aruf lainnya. Ta‟aruf pertemanan hanya mengenal seseorang untuk dijadikan sebagai teman, ta‟aruf persaudaraan han ya mengenal seseorang untuk dijadikan sebagai saudara. Ta‟aruf satu kata yang berasal dari  bahasa Arab, yang memiliki arti mengenal. Berkenalan bisa dilakukan dengan siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Makna ta‟aruf menjadi lebih khusus ketika ditujukan untuk yang sedang mencari  jodoh tanpa melalui proses pacaran. Ta‟aruf diartikan sebagai berkenalan dalam rangka mengetahui lebih dalam tentang calon suami atau istri. Atau untuk lebih jelasnya lagi, ta‟aruf adalah proses  pendekatan antara laki-laki dan perempuan yang akan menikah (pra khitbah atau lamaran). Jadi makna ta‟aruf secara luas adalah berkenalan, sedangkan makna sempitnya adalah berkenalan yang dimaksud untuk menikah dengan tuntutan Rasulullah Saw. Istilah ta‟aruf sebenarnya adalah istilah yang baru. Sebab pada zaman nabi, orangtua atau wali yang  bertanggung jawab untuk memilihkan suami yang salih untuk anak  perempuannya (Hana, 2012 : 3). Pernikahan melalui proses ta‟aruf ini sebagai wadah untuk mengenal  pasangan secara Islami, menghindari para  pelaku melakukan hal-hal haram seperti melakukan aktifitas-aktifitas layaknya suami istri; berpegangan, berpelukan,  berciuman bahkan sampai melakukan hubungan intim. Pernikahan melalui  proses ta‟aruf sudah semakin dikenal dengan makin banyaknya orang yang m empraktikkan ta‟aruf sebagai salah satu cara menuju maghligai rumahtangga yang sesuai syariat. Dahulu, orang mengenal istilah pacaran, yang kini konotasinya menajdi negatif karena akibat-akibat yang dihasilkannya (Hana, 2012:vi). Pernikahan ta‟aruf tidak   hanya dilakukan di kalangan yang paham agama Islam saja, namun dikalangan artis, pernikahan ta‟aruf sudah terjadi. Artinya, pernikahan ta‟aruf menjadi fenomenal saat ini, apalagi pelaku  pernikahan ta‟aruf dilakukan oleh artis yang kerap disebut public figure. http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3NlbGVidXBkYXRlLmNvbS9hcnRpcy1tZW5pa2FoLW1lbGV3YXRpLXRhYXJ1Zi8=  JOM FISIP Vol. 3 No. 1 Februari 2016 Page 4 Proses menikah dengan car  a ta‟aruf masih dianggap hal yang aneh dalam masyarakat kita. Ada sebagian yang  berpendapat bahwa ta‟aruf sama hal nya membeli kucing dalam karung. Identik dengan tanpa perhitungan, terlalu sembarangan, dan pasrah atau putus asa karena tidak kunjung datang sang belahan  jiwa. Belum saling mengenal tapi sudah menikah, baru kenal tapi sudah menikah,  pasti akan menyesal dan rugi, sehingga citra yang terbangun adalah menikah dengan cara ta‟aruf sama dengan dijodohkan sehingga yang sedang  berproses tidak dapat memberikan  penolakan. Sejatinya, ta‟aruf hanyalah media mengenal orang lain yang hendak dijadikan calon pasangan hidup melalui  perantara (mediator) yang dipercayai oleh kedua belah pihak. Sebagian orang berpendapat ta‟aruf dan pacaran adalah sesuatu yang sama sehingga muncul legitimasi bahwa pacaran itu sah-sah saja. Ada pula yang  beranggapan ta‟aruf tidak ada bedanya dengan pacaran, hanya bungkusnya saja yang beda. Tentu saja pandangan ini tidak  benar. Antara ta‟aruf dan pacaran keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, yakni pada tujuan, cara dan manfaatnya (Ari, 2013:19). Ta‟aruf secara syar‟i diperintahkan oleh Rasulullah SAW. bagi pasangan yang ingin menikah. Perbedaan hakiki antara  pacaran dengan ta‟aruf adalah dari segi cara, tujuan dan manfaat. Jika tujuan  pacaran lebih kepada kenikmatan sesaaat, zina dan maksiat, sedangkan ta‟aruf jelas cara, tujuan dan manfaatnya. Tujuannya untuk mengetahui kriteria calon pasangan. Dalam Islam pacaran sendiri tidak diperbolehkan karena pacaran adalah salah satu jalan mendekati zina. Allah SWT. melarang hamba-hambanya untuk mendekati zina sesuai dengan firmannya yang artinya”janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah  perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang  buruk” (QS. Al -Isra ayat 32). Pernikahan ta‟aruf memiliki latar  belakang yang berbeda menuju sebuah rumahtangga dibandingkan dengan  pernikahan lainnya. Latar belakang menuju sebuah rumahtangga dalam  pernikahan ta‟aruf memberikan pengaruh  pada keunikan dan karakteristik yang khas. Pada proses per  nikahan ta‟aruf, mereka yang akan melakukan proses ta‟aruf membuat CV/biodata masing-masing yang  berkaitan dengan kepribadian mereka. Bukan seperti CV melamar pekerjaan, CV  pada pernikahan ta‟aruf lebih lengkap dan mengarah kepada informasi pernikahan yang di inginkan. Selain berisi tentang kepribadian secara umum, juga mencakup visi dan misi pernikahan yang diharapkan, kriteria calon istri atau suami yang diinginkan, kondisi keluarga dan lainnya. Mengapai pernikahan mengutamakan yang makruf dengan cara terbaik adalah keharusan. Allah berfirman yang artinya “Perempuan -perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan keji pula, sedang perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” (QS. An.Nur 26). Firman Allah dalam surat An-Nur ayat 26 tersebut sangat jelas menegaskan  bahwasanya jodoh itu tidak akan tertukar. Perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik, dan begitu juga sebaliknya, sehingga sudah sewajarnya mengapai pernikahan harus mengutamakan dengan hal-hal yang baik. Ini lah salah satu motif melakukan  pernikahan ta‟a ruf pada kader Partai Keadilan Sejahtera, memulai suatu  pernikahan dengan cara yang baik. Fenomena pernikahan melalui  proses ta‟aruf di Kota Pekanbaru dilakukan oleh salah satu partai, yakni Partai Keadilan Sejahtera. Fenomena itu terlihat dari para Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang hendak menikah
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x