6173-10513-1-PB (1).pdf

7 pages
10 views

Please download to get full document.

View again

of 7
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Ilmu Pertanian Vol. 18 No.1, 2015 : 24-30 Permintaan Gula Kristal Mentah Indonesia The Demand for Raw Sugar in Indonesia Rutte Indah Kurniasari1, Dwidjono Hadi Darwanto2, dan Sri Widodo2 1 Mahasiswa S2 Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM Staf Dosen Fakultas Pertanian UGM, Kampus Bulaksumur, Yogyakarta 2 ABSTRACT This study aimed to determine the factors that influence the demand for imported raw sugar and to make a projection about the demand for raw sugar in the future. The research m
Transcript
  Ilmu Pertanian Vol. 18 No.1, 2015 : 24-30 Permintaan Gula Kristal Mentah Indonesia The Demand for Raw Sugar in Indonesia Rutte Indah Kurniasari 1 , Dwidjono Hadi Darwanto 2 , dan Sri Widodo 2   1 Mahasiswa S2 Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM 2 Staf Dosen Fakultas Pertanian UGM, Kampus Bulaksumur, Yogyakarta ABSTRACT This study aimed to determine the factors that influence the demand for imported raw sugar and to make a projection about the demand for raw sugar in the future. The research method used Ordinary Least Square (OLS) regression analysis to determine the factors that influence the demand for imported raw sugar. Then the trend analysis used to determine the tendency of imported raw sugar in the future. The results  showed that the factors which significantly affected the demand for imported raw sugar are the production of  Indonesian white sugar, the national sugar consumption and the world price of raw sugar. Imports of raw  sugar will increase as long as the number of national sugar consumption increasing for each year, as long as Indonesia does not attempt to start producing its own raw sugar crystals. The trend of imported raw sugar by Indonesia tend to rise or increase from year to year. Based on the trend analysis, it can be estimated that in 2020 the number of imported raw sugar in indonesia will be 1,219,979 tons. Keywords:  Regression Analysis, Trend Analysis, Raw Sugar Imports INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan gula kristal mentah impor dan memproyeksikan permintaan gula kristal mentah di masa yang akan datang. Metode  penelitian yang dipergunakan adalah metode analisis regresi Ordinary Least Square (OLS) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan gula kristal mentah impor. Selanjutnya digunakan analisis trend untuk mengetahui kecenderungan trend permintaan gula kristal mentah impor dimasa yang akan datang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap  permintaan gula kristal mentah impor adalah produksi gula kristal putih Indonesia, konsumsi gula nasional dan harga gula kristal mentah dunia. Impor gula kristal mentah akan terus meningkat per tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah konsumsi gula nasional, selama Indonesia tidak berupaya untuk mulai memproduksi gula kristal mentahnya sendiri. Trend impor gula kristal mentah oleh Indonesia cenderung naik atau meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil analisis trend  , dapat diperkirakan bahwa Indonesia  pada tahun 2020 jumlah impor gula kristal mentahnya bisa mencapai 1.219.979 ton. Kata Kunci: Analisis Regresi, Tren Analisis, Gula Kristal Mentah Impor PENDAHULUAN Di Indonesia gula merupakan komoditas terpenting nomor dua setelah beras. Gula menjadi  begitu penting bagi masyarakat yakni sebagai sumber kalori. Pada umumnya gula digunakan untuk mengawetkan makanan dan untuk pemanis. Gula di Indonesia terdapat berbagai jenis  berdasarkan bahan pembuatnya misalnya gula tebu, gula aren dan gula kelapa. Untuk gula tebu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga, yakni Gula Kristal Mentah (GKM) atau raw sugar  , Gula Kristal Putih (GKP) dan Gula Kristal Rafinasi (GKR). Gula kristal mentah (GKM) merupakan gula yang digunakan sebagai bahan baku untuk  produksi gula rafinasi dan sebagian untuk gula kristal putih . Gula kristal putih merupakan gula yang terbuat dari kristalisasi yang dapat langsung digunakan untuk konsumsi rumah tangga, sedangkan GKR merupakan gula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri seperti industri makanan, minuman dan farmasi. Kebutuhan Indonesia akan gula akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah  penduduk dan juga kenaikan pendapatan. Organisasi Gula Internasional (ISO) menyatakan  bahwa konsumsi gula Indonesia akan tumbuh 4%  per tahun untuk memenuhi kebutuhan 240 juta  jiwa penduduk nasional. Berdasarkan data Tahun  25 Kurniasari et al  . : Permintaan gula kristal mentah Indonesia   2012 menunjukkan bahwa total kebutuhan konsumsi gula untuk industri sebesar 2,5 juta ton  per tahun. Namun, permintaan tersebut tak seimbang dengan total gula kristal rafinasi yang ditawarkan oleh produksi dalam negeri yakni hanya sebesar 2,1 juta ton per tahun. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan  penawaran, yakni untuk GKR terjadi defisit 400.000 ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula Indonesia, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor kekurangannya dari luar negeri. Sebelum tahun 2000, Indonesia mengimpor seluruh kebutuhan gula rafinasi.  Namun ekspektasi gula dunia terus meningkat sedangkan produksi di dalam negeri semakin menurun sehingga pemerintah memutuskan untuk membangun pabrik gula rafinasi. Hingga tahun 2009, Indonesia memiliki delapan pabrik gula rafinasi. Gula kristal rafinasi sendiri merupakan gula dengan bahan baku berupa gula kristal mentah. Di Indonesia, seluruh kebutuhan gula kristal mentah pabrik-pabrik gula rafinasi dipenuhi dari impor. ISO memperkirakan pada tahun 2012-2013 impor gula kristal mentah Indonesia akan semakin meningkat bahkan akan melampaui China yang kemudian akan membuat Indonesia menjadi negara importir gula kristal mentah (GKM) nomor satu di Dunia. China mencoba mengurangi impor GKM dengan cara membangun  pabrik gula rafinasi dan untuk menggenjot  produksi gula dalam negeri, China juga membuka lahan untuk budidaya tebu. Namun di Indonesia  justru saat ini baru memiliki delapan pabrik gula rafinasi dan dua masih dalam pembangunan. Selain itu, Indonesia terkendala cuaca dan lahan yang sesuai untuk budidaya tebu minim tersedia, sehingga sulit bagi Indonesia untuk memperluas lahan budidaya tebu khususnya di Pulau Jawa. BAHAN DAN METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desktiptif analisis. Jenis data yang dipergunakan adalah data sekunder yang  berupa data time-series  dengan runtun waktu dari tahun 1983 hingga 2011. Sumber data dalam  penelitian ini adalah BPS, Kementerian Pertanian, Dewan Gula Indonesia, FAO, Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia serta data-data dari instansi lain yang berkaitan dengan penelitian. Pada penelitian ini, kualitas gula kristal mentah impor yang diminta dianggap memiliki kualitas yang sama yakni nilai ICUMSA minimal 1200 IU sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.011/2009. Pada  penelitian ini untuk menganalisis bahwa  permintaan gula kristal mentah impor sebagai input produksi gula (GKP dan GKR) diduga dipengaruhi oleh produksi gula kristal rafinasi Indonesia, produksi gula kristal putih Indonesia, konsumsi gula nasional, harga gula kristal mentah dunia, rasio harga gula kristal putih dan tarif impor gula mentah. Pada penelitian ini digunakan model langsung Cobb-Douglass dengan bentuk umum sebagai berikut:                       Persamaan tersebut dijadikan persamaan logaritma natural sehingga menjadi,                  Dimana, Ir = Permintaan gula kristal mentah impor (ton/tahun) PDRf = Produksi gula kristal rafinasi Indonesia (ton/tahun) PDP = Produksi gula kristal putih Indonesia (ton/tahun) CSd = Konsumsi gula nasional (ton/tahun) PRw = Harga gula kristal mentah dunia (US$/ton) SPR = Rasio harga gula kristal putih TR = Tarif impor gula mentah (Rp/kg) ε = Faktor kesalahan   Proyeksi perkembangan impor gula kristal mentah dapat diperoleh dengan mengestimasi volume impor dengan menggunakan persamaan trend dengan metode  Least Square . Persamaan trend dengan metode  Least Square adalah sebagai  berikut : Ir = a + bT Keterangan: Ir = Permintaan gula kristal mentah impor (ton/tahun) a = Intersep  b = Koefisien regresi pengubah waktu T = Waktu  Vol 18 No.1 Ilmu Pertanian 26   HASIL DAN PEMBAHASAN Permintaan gula kristal mentah impor menunjukkan seberapa besar jumlah gula kristal mentah impor yang diminta oleh Indonesia untuk memproduksi gula kristal rafinasi dan gula kristal  putih dalam negeri. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia digunakan model penaksir parameter logaritma natural (ln) agar variabel-variabel yang digunakan dalam analisis ini lebih terdistribusi normal dan dapat diketahui elastisitasnya. Tabel 1 adalah hasil analisis regresi fungsi permintaan gula kristal mentah impor dengan bantuan  software Eviews . Berdasarkan tabel 1, hasil analisis fungsi  permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia memiliki koefisien determinasi (R2) sebesar 0,466 yang artinya 46,6% variasi permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel bebas ( independent variable ) yang digunakan dalam model. Sedangkan 53,4% dari variasi permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia dijelaskan oleh variabel bebas ( independent variable ) yang tidak digunakan dalam model. Uji F yang digunakan untuk mengetahui secara statistik bahwa pengaruh variabel bebas secara bersama-sama memberikan pengaruh terhadap variabel tak bebasnya. Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa nilai F hitung sebesar 3,053641 lebih besar dari F tabel (2,64) pada tingkat signifikasi 95%. Hal ini berarti variabel bebas  berupa produksi gula kristal rafinasi Indonesia,  produksi gula kristal putih Indonesia, konsumsi gula nasional, harga gula kristal mentah dunia, rasio harga gula kristal putih, dan tarif impor gula mentah secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap perubahan permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95%. Tabel 1 . Hasil Analisis Regresi Fungsi Permintaan Gula Kristal Mentah Impor di Indonesia Tahun 1983-2011 Variabel Koefisien Tanda Harapan t-hitung Probabilitas Konstanta 0,9635ns + 0,8119 0,4260 Produksi Gula Kristal Rafinasi Indonesia -0,0923ns - -0,4773 0,6381 Produksi Gula Kristal Putih Indonesia -27,5628** - -2,4332 0,0240 Konsumsi Gula Nasional 26,2813** + 2,5124 0,0202 Harga Gula Kristal Mentah Dunia 12,3478** + 2,5617 0,0182 Rasio Harga Gula Kristal Putih -5,6491ns - -1,0577 0,3022 Tarif Impor Gula Kristal Mentah -0,0493ns - -0,2122 0,8340 R  2 0,4659 F-statistik 3,0536** Probabilitas 0,0262 Sumber: Analisis Data Sekunder, 2013 Keterangan: *** : Signifikan pada α = 99%  ** : Signifikan pada α = 95%  * : Signifikan pada α = 90%  ns : Non Signifikan   Untuk mengetahui pengaruh variabel  bebas secara parsial terhadap variabel tak  bebasnya digunakan uji t. Hasil analisis yang ditunjukkan pada tabel 1 di atas terdapat tiga variabel bebas yang berpengaruh nyata yaitu  produksi gula kristal putih Indonesia, konsumsi gula nasional, harga gula kristal mentah dunia. Variabel yang tidak berpengaruh nyata adalah  produksi gula kristal rafinasi Indonesia, rasio gula kristal putih dan tarif impor gula mentah. Variabel  produksi gula kristal putih Indonesia berpengaruh nyata terhadap permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung yakni sebesar -2,43 yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Nilai koefisien -27,56275 yang artinya bila produksi mengalami kenaikan 1% maka akan diikuti oleh penurunan impor gula kristal mentah sebesar 27,56% sehingga dari analisis regresi tersebut dapat dikatakan bahwa produksi gula kristal putih yang mengalami kenaikan berpengaruh nyata secara statistik terhadap permintaan impor gula kristal mentah di Indonesia. Hal tersebut disebabkan kebijakan yang digalakan oleh pemerintah untuk terus mengenjot hasil produksi gula dalam negeri melalui program kebijakan akselerasi gula. Program akselerasi yang diterapkan oleh  pemerintah merupakan program untuk  27 Kurniasari et al  . : Permintaan gula kristal mentah Indonesia   mengoptimalkan kinerja pabrik gula yang ada melalui penataanatau rehabilitasi tanaman, rehabilitasi penyehatan mesin pabrik, manajemen  pabrik gula dan penyehatan lembaga penelitian yang ada (P3GI). Variabel konsumsi gula nasional  berpengaruh nyata terhadap permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia . Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung yakni sebesar 2,51 yang signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Nilai koefisien 26,28134 yang artinya bila konsumsi gula nasional mengalami kenaikan 1% maka akan diikuti oleh kenaikan impor gula kristal mentah sebesar 26,28% sehingga dari analisis regresi tersebut dapat dikatakan bahwa konsumsi gula nasional yang mengalami kenaikan berpengaruh nyata secara statistik terhadap permintaan impor gula kristal mentah di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena kenaikan antara jumlah  produksi dan jumlah konsumsi yang tidak sebanding, bahkan menurut Kementerian Perindustrian tahun 2009 Indonesia telah mengalami defisit sebesar 2.350.000 ton dan diperkirakan tahun 2014 defisit akan mencapai 2.100.264 ton. Hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa kenaikan jumlah konsumsi gula diikuti juga dengan kenaikan jumlah gula kristal mentah yang diimpor, yakni untuk bisa digunakan sebagai bahan baku produksi gula dalam negeri sehingga hasil produksinya bisa untuk menutupi defisit gula yang telah terjadi. Sehingga sangat wajar bila jumlah impor gula kristal mentah terus meningkat seiring kenaikan  jumlah konsumsi gula, selama Indonesia masih  belum mampu mengoptimalkan produksi gula dalam negeri. Variabel harga gula kristal mentah dunia  berpengaruh nyata terhadap permintaan gula kristal mentah impor di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai t hitung yakni sebesar 2,56, signifikan pada tingkat kepercayaan 95%. Nilai koefisien 12,34779 yang artinya bila harga gula kristal mentah dunia mengalami kenaikan 1% maka akan diikuti oleh kenaikan impor gula kristal mentah sebesar 12,34% sehingga dari analisis regresi tersebut dapat dikatakan bahwa  produksi gula kristal putih yang mengalami kenaikan berpengaruh nyata secara statistik terhadap permintaan impor gula kristal mentah di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya Indonesia merupakan negara yang masih sangat tergantung dengan gula kristal mentah impor, bahkan dapat dikatakan Indonesia 100% mengimpor gula kristal mentah yang dibutuhkan oleh industri gula dalam negeri sebagai bahan  baku. Sehingga berapapun harga dari gula kristal mentah dunia maka Indonesia akan tetap mengimpornya. Dalam hal ini setiap kenaikan harga sebesar 1% akan meningkatkan juga jumlah gula kristal mentah yang diimpor, karena pada dasarnya harga akan terus meningkat tiap waktunya, begitu juga dengan jumlah konsumsi maka jadi hal yang wajar bila Indonesia justru meningkatkan jumlah impornya meski mengalami kenaikan harga. Sebab, apabila Indonesia mengurangi jumlah impor sedangkan konsumsi terus meningkat, dan produksi gula dalam masih  belum bisa memenuhi maka yang terjadi adalah defisit yang terus meningkat dan sebagian kebutuhan gula jadi tidak terpenuhi. Indonesia pada periode 2011-2012 sebagai negara yang mengkonsumsi gula terbesar dengan peringkat ketujuh di dunia, dan sebagai importir gula peringkat keempat, menunjukkan seberapa besar ketergantungan Indonesia terhadap gula. Tingkat konsumsi yang terus meningkat tiap tahunnya dengan tingkat kenaikan jumlah  produksi gula dalam negeri yang tak setara kenaikannya membuat Indonesia harus berfikir lebih cermat untuk dapat menutup semua defisit gula yang terjadi. Salah satu langkah yang di ambil oleh pemerintah ialah dengan melakukan impor bahan baku, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan gula juga sebagai nilai tambah bagi produksi gula dalam negeri. Dengan mengimpor gula mentah sebagai bahan baku artinya memberi kesempatan pada industri gula dalam negeri untuk bisa berproduksi dan memperoleh keuntungan dibandingkan dengan mengimpor langsung gula konsumsi, baik konsumsi rumah tangga (gula kristal putih) dan konsumsi industri (gula kristal rafinasi). Di dunia terdapat 10 negara pengekspor gula terbesar yakni diantaranya adalah Brazil, Thailand, Australia, India, Guatemala, EU-27, Mexico, Columbia, United Emirates Arab dan Cuba. Kesepuluh negara eksportir gula tersebut  juga termasuk sebagai negara yang memasok gula mentah ke Indonesia, tabel 5.1 adalah gambaran impor gula mentah Indonesia berdasarkan negara asal pada periode waktu 2010 - 2012.  
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks